EnglishIndonesia

Link

.: Link Lain :.

Online

Pengunjung: 9, Anggota: 0 ...

paling banyak berkunjung: 106
(anggota: 0, pengunjung: 106) pada 19 Ags : 05:52
RSS Feed
Berita dapat disindikasikan menggunakan rss feed berikut.
rss1.0
rss2.0
rdf
atom

.: Apa itu RSS :.
Perekonomian Menuntut Penerapan Teknologi
Abjad Pertama Judul Tulisan
&ABDEFGHIJKLMNOPQRSTUW semuanya Daftar
03 24
Al-Itsnayna, 16 Rabi Al-Awwal 1429 H - 14:50:47
oleh: Ervan Nanggalo, ST

Ervan Nanggalo, ST^palo@ervannanggalo.comPada era globalisasi saat ini kehidupan berjalan dengan cepat, segala hal dituntut untuk berpacu dan terus bergerak maju, dan itu menuntut penyediaan fasilitas pendukung yang akan membantu dalam memudahkan aktifitas manusia. Banyak hal tercipta mulai dari perangkat telekomunikasi yang serba canggih, sarana transportasi yang luar biasa, sampai kepada peralatan pemenuhan kebutuhan yang serba otomatis, itu semua tercipta karena adanya Ilmu Pengetahuan dan Teknologi.

Ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) pada dasarnya bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dalam rangka meningkatkan taraf hidup bangsa. Pembangunan iptek merupakan sumber terbentuknya iklim inovasi yang menjadi landasan bagi tumbuhnya kreativitas sumberdaya manusia (SDM), yang pada akhirnya dapat menjadi sumber pertumbuhan dan daya saing ekonomi. Selain itu iptek menentukan tingkat efektivitas dan efisiensi proses transformasi sumberdaya menjadi sumberdaya baru yang lebih bernilai. Dengan demikian peningkatan kemampuan iptek sangat diperlukan untuk meningkatkan standar kehidupan bangsa dan negara, serta kemandirian dan daya saing bangsa Indonesia di mata dunia.

Kita semua memahami bahwa kecenderungan globalisasi sudah tidak dapat dibendung lagi. Proses transformasi global yang dewasa ini sedang berlangsung pada dasarnya digerakkan oleh dua kekuatan besar, yakni perdagangan dan kemajuan teknologi. Keduanya kait-mengait dan saling menunjang. Perdagangan yang meningkat bukan hanya mendorong proses alih teknologi, tetapi juga penguatan teknologi. Sebaliknya peningkatan teknologi akan memperlancar dan mendorong arus barang, uang, jasa dan informasi. Interaksi antara keduanya itu telah mendorong terjadinya penyesuaian struktural perekonomian di banyak negara di dunia, baik di negara maju, maupun negara berkembang. Keseluruhan proses itu menghasilkan ekonomi dunia yang makin terintegrasi.

Proses perubahan yang sangat besar tersebut terjadi dengan cepat. Proses perubahan itu melahirkan tantangan- tantangan yang harus dijawab oleh bangsa Indonesia. Tantangan-tantangan itu ada yang berupa peluang yang harus dimanfaatkan, tetapi juga ada yang berupa kendala yang harus diatasi, agar proses perubahan itu menguntungkan dan tidak malah merugikan masa depan bangsa Indonesia.

Kendala yang berupa Lemahnya daya saing bangsa dan kemampuan iptek ditunjukkan oleh sejumlah indikator, yaitu Rendahnya kemampuan iptek nasional, Rendahnya kontribusi iptek nasional di sektor produksi.

a. Rendahnya kemampuan iptek nasional
Perekonomian Menuntut Penerapan Teknologi oleh Ervan Nanggalo, ST
Dalam menghadapi perkembangan global Indeks Pencapaian Teknologi (IPT) dalam laporan UNDP tahun 2001 menunjukkan tingkat pencapaian teknologi Indonesia masih berada pada urutan ke 60 dari 72 negara. Sementara itu, menurut World Economic Forum (WEF) tahun 2004, indeks daya saing pertumbuhan (Growth Competitiveness Index) Indonesia hanya menduduki peringkat ke-69 dari 104 negara. Dalam indeks daya saing pertumbuhan tersebut, teknologi merupakan salah satu parameter selain parameter ekonomi makro dan institusi publik. Rendahnya kemampuan iptek nasional juga dapat dilihat dari jumlah paten penemuan baru dalam negeri yang didaftar di Indonesia hanya mencapai 246 buah pada tahun 2002, jauh lebih rendah dibanding paten dari luar negeri yang didaftarkan di Indonesia yang berjumlah 3.497 buah.

b. Rendahnya kontribusi iptek nasional di sektor produksi.
Perekonomian Menuntut Penerapan Teknologi oleh Ervan Nanggalo, ST
Hal ini antara lain ditunjukkan oleh kurangnya efisiensi dan rendahnya produktivitas, serta minimnya kandungan teknologi dalam kegiatan ekspor. Pada tahun 2002, menurut indikator iptek Indonesia tahun 2003, ekspor produk industri manufaktur didominasi oleh produk dengan kandungan teknologi rendah yang mencapai 60 persen; sedangkan produk teknologi tinggi hanya mencapai 21 persen. Sementara itu produksi barang elektronik yang dewasa ini mengalami peningkatan ekspor, pada umumnya merupakan kegiatan perakitan yang komponen impornya mencapai 90 persen.

Belum optimalnya mekanisme intermediasi iptek yang menjembatani interaksi antara kapasitas penyedia iptek dengan kebutuhan pengguna. Masalah ini dapat terlihat dari belum tertatanya infrastruktur iptek, antara lain institusi yang mengolah dan menterjemahkan hasil pengembangan iptek menjadi preskripsi teknologi yang siap pakai untuk difungsikan dalam sistem produksi. Disamping itu, masalah tersebut dapat dilihat dari belum efektifnya sistem komunikasi antara lembaga litbang dan pihak industri, yang antara lain berakibat pada minimnya keberadaan industri kecil menengah berbasis teknologi.

Lemahnya sinergi kebijakan iptek, sehingga kegiatan iptek belum sanggup memberikan hasil yang signifikan. Kebijakan bidang pendidikan, industri, dan iptek belum terintegrasi sehingga mengakibatkan kapasitas yang tidak termanfaatkan pada sisi penyedia, tidak berjalannya sistem transaksi, dan belum tumbuhnya permintaan dari sisi pengguna yaitu industri. Disamping itu kebijakan fiskal juga dirasakan belum kondusif bagi pengembangan kemampuan iptek. Masih terbatasnya sumber daya iptek, yang tercermin dari rendahnya kualitas SDM dan kesenjangan pendidikan di bidang iptek. Rasio tenaga peneliti Indonesia pada tahun 2001 adalah 4,7 peneliti per 10.000 penduduk, jauh lebih kecil dibandingkan Jepang sebesar 70,7. Selain itu rasio anggaran iptek terhadap PDB sejak tahun 2000 mengalami penurunan, dari 0,052 persen menjadi 0,039 persen pada tahun 2002. Rasio tersebut jauh lebih kecil dibandingkan rasio serupa di ASEAN, seperti Malaysia sebesar 0,5 persen (tahun 2001) dan Singapura sebesar 1,89 persen (tahun 2000). Sementara itu menurut rekomendasi UNESCO, rasio anggaran iptek yang memadai adalah sebesar 2 persen. Kecilnya anggaran iptek berakibat pada terbatasnya fasilitas riset, kurangnya biaya untuk operasi dan pemeliharaan, serta rendahnya insentif untuk peneliti.

Lemahnya sumber daya iptek diperparah oleh belum berkembangnya budaya iptek di kalangan masyarakat. Budaya bangsa secara umum masih belum mencerminkan nilai-nilai iptek yang mempunyai penalaran obyektif, rasional, maju, unggul dan mandiri. Pola pikir masyarakat belum berkembang ke arah yang lebih suka mencipta daripada sekedar memakai, lebih suka membuat daripada sekedar membeli, serta lebih suka belajar dan berkreasi daripada sekedar menggunakan teknologi yang ada.

Tentang Penulis:
Alumni Jurusan Teknik Kimia Fakultas Teknologi Industri Universitas Bung Hatta, dan sekarang sebagai Mahasiswa Pascasarjana pada program Magister Sains Manajemen (M.Si) Universitas Bung Hatta
Perekonomian Menuntut Penerapan Teknologi oleh Ervan Nanggalo, ST
Artikel Kemahasiswaan Lain
English Idol Competitions (Mahasiswa dan Pelajar SMU se-Kota Padang)
oleh Dennye Abdillah M
Jumat 25 April 2008 - 08:32:32
Al-Jum'a, 18 Rabi Al-Thani 1429 H - 08:32:32
Reformasi Jilid 2 atau Revolusi
oleh SYAMSIR FIRDAUS
Jumat 18 April 2008 - 08:24:44
Al-Jum'a, 11 Rabi Al-Thani 1429 H - 08:24:44
MAHASISWA SEBAGAI AGENT OF CHANGE
oleh Syamsir Firdaus MW
Senin 25 Februari 2008 - 10:17:27
Al-Itsnayna, 17 Safar 1429 H - 10:17:27
Perencanaan Program dan Penyusunan Usulan Kegiatan
oleh henrynasution
Rabu 31 Januari 2007 - 09:31:16
Al-Arba'a, 12 Muharram 1428 H - 09:31:16
Organisasi Mahasiswa
oleh Patriot Rieldo Perdana
Senin 22 Januari 2007 - 14:53:00
Al-Itsnayna, 3 Muharram 1428 H - 14:53:00
Prinsip Suci Sebuah Universitas
oleh Patriot Rieldo Perdana
Senin 22 Januari 2007 - 08:36:42
Al-Itsnayna, 3 Muharram 1428 H - 08:36:42
Student Government: Sebuah Konsepsi
oleh Patriot Rieldo Perdana
Senin 22 Januari 2007 - 08:25:20
Al-Itsnayna, 3 Muharram 1428 H - 08:25:20
Legislatif : Sebuah Simbol Kedaulatan Mahasiswa II
oleh Patriot Rieldo Perdana
Senin 22 Januari 2007 - 08:22:48
Al-Itsnayna, 3 Muharram 1428 H - 08:22:48
Presiden Mahasiswa Harapan Kita
oleh Patriot Rieldo Perdana
Senin 22 Januari 2007 - 08:20:54
Al-Itsnayna, 3 Muharram 1428 H - 08:20:54
Legislatif : Sebuah Simbol Kedaulatan Mahasiswa
oleh machiavelli
Kamis 11 Januari 2007 - 13:28:29
Al-Hamis, 21 Dhul Hijja 1427 H - 13:28:29
Potret Kegiatan Yang Namanya: OPSPEK
oleh Henry Nasution
Sabtu 24 September 2005 - 11:46:15
As-Sabt, 20 Sha'ban 1426 H - 11:46:15
Masjid Kampus
oleh Muhibbullah
Kamis 09 Juni 2005 - 11:39:20
Al-Hamis, 2 Jumada Al-Ula 1426 H - 11:39:20
Galeri Random
   Berita Kampus
»KESEMPATAN EMAS BAGI MASYARAKAT YANG SIBUK UNTUK KULIAH DI FPIK UBH
Mulai semester Ganjil 2008/2009 Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Bung Hatta memberik ...
»Fakultas Hukum dan FKIP UBH Primadona
Padang, Padek-- Hari ini Universitas Bung Hatta (UBH) bakal mengumumkan kelulusan sekitar 1.200 calo ...
»Pengiriman Mahasiswa Mengikuti Kompetisi Matematika Tingkat Nasional
Lima orang mahasiswa akan dikirim mengikuti kompetisi matematika tingkat nasional pada tanggal 12 - ...
»Mahasiswa FTI-UBH, Olah Kotoran Ternak Jadi Energi Listrik
Mahasiswa Fakultas Teknologi Industri Universitas Bung Hatta (UBH) Padang, Muhammad Nizam Ibka menci ...
»Bupati Tanah Datar Meresmikan Kincir Air Kerjasama Dengan Universitas Bung Hatta
Dalam rangka meningkatkan komunikasi yang produktif antar stakeholders, Forum Komunikasi dan Konsult ...
Copyright (c) Universitas Bung Hatta
Design by Djamboe WebDesign
Development by Djamboe WebDesign