Perusahaan Listrik Negara (PLN) wilayah Sumbar belakangan ini sering melakukan pemadaman listrik secara bergilir. Pemadaman yang juga melanda Kota Padang. Awalnya pemadaman dilakukan terutama saat PLN mengalami beban puncak pemakaian listrik, yakni antara pukul 18.00 sampai dengan pukul 22.00 wib. Namun akhir-akhir ini sudah mulai acak, tengah malam atau siang hari pemadaman juga terjadi.Secara umum pihak PLN menempuh langkah dan kebijaksanaan pahit tersebut, dengan dua pertimbangan. Pertama, karena salah satu sumber energi listrik yaitu Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) danau Singkarak tidak optimal karena menurunnya jumlah debit air di danau itu akibat minimnya curah hujan akhir-akhir ini.
Listrik, Nikmat Allah yang Jarang Disyukuri oleh Ir. Muhibbullah Azfa Manik, MTKedua, hal ini dilakukan untuk mempertahankan kondisi PLN yang sekarang lagi "sekarat", atau dengan istilah PLN "agar listrik tetap menyala". Dalam konteks ini sangat masuk akal karena dari sudut pertimbangan jangka panjang, maka sumber energi listrik harus dipelihara.
Listrik, Nikmat Allah yang Jarang Disyukuri oleh Ir. Muhibbullah Azfa Manik, MTNamun demikian, sejak pra penerapan kebijaksanaan tersebut, ternyata menimbulkan pro dan kontra di kalangan masyarakat. Mereka yang pro karena menyadari dan memaklumi alasan yang dikemukakan PLN tadi. Sementara penolakan didasari atas pertimbangan bahwa kebijakan itu tidak sesuai dengan situasi dan kondisi sosio psikolis masyarakat. Kebijaksanaan pemadaman dinilai sangat rawan sosial karena sekarang ini masyarakat banyak mengalami kesusahaan seperti langkanya BBM yang berimbas pada kenaikan harga sembako serta seringnya air PDAM mengalami gangguan.
Listrik, Nikmat Allah yang Jarang Disyukuri oleh Ir. Muhibbullah Azfa Manik, MTOleh karena itu kebijaksanaan pemadaman dianggap dapat memicu kerawanan sosial.Sebagai orang beragama ada hikmah terdalam yang dapat diambil dari pemadaman bergilir tersebut. Ternyata listrik yang merupakan nikmat Allah yang sangat luar biasanya dalam menopang kelangsungan hidup manusia, seringkali terabaikan. Bahkan selama ini kita mengkufurinya dan kita baru menyadari kekufuran tersebut setelah adanya pemadaman.
Listrik, Nikmat Allah yang Jarang Disyukuri oleh Ir. Muhibbullah Azfa Manik, MTPadamnya listrik sontak menyadarkan kita bahwa listrik adalah urat nadi kehidupan manusia modern. Benarlah petuah agama yang menyatakan bahwa nikmat Allah barulah disadari keberadaannya setelah nikmat tersebut dicabut Allah. Sebelum nikmat listrik betul-betul dicabut Allah maka semua orang yang menikmati listrik berkewajiban mensyukuri nikmat listrik tersebut dengan cara hemat energi listrik demi menjaga agar listrik tetap nyala.
Listrik, Nikmat Allah yang Jarang Disyukuri oleh Ir. Muhibbullah Azfa Manik, MTMengubah pola hidup adalah bagian dari solusi menjaga listrik tetap nyala. Pola hidup berlebih-lebihan yang banyak dipraktikkan oleh konsumen listrik selama ini harus diganti dengan pola hidup hemat energi. Sikap semacam ini merupakan wujud nyata mensyukuri nikmat Allah. Mensyukuri sesuatu adalah menggunakannya dengan baik, wajar, serta sesuai dengan tujuan ia diciptakan, sementara kekufuran antara lain, berarti menggunakan sumber daya energi secara berlebih. Gaya hidup boros adalah salah satu contoh sikap kufur.
Listrik, Nikmat Allah yang Jarang Disyukuri oleh Ir. Muhibbullah Azfa Manik, MTPemborosan dilarang oleh agama, bukan saja karena merugikan si pemboros, tetapi merugikan juga pihak lain. Senada dengan ini, Nabi bersabda "Tidak ada kebaikan di dalam pemborosan, tidak ada pula pemborosan (walau) dalam kebaikan, walau di sungai janganlah berwudhu secara berlebih-lebihan". Orang yang memegang konsep ini dengan baik, dalam hidupnya pasti menghindari gaya hidup boros. Sebaliknya, dia akan menjalani hidup ini dengan gaya hidup hemat.
Agar perubahan pola hidup dilakukan dengan lapang dada sebaiknya sebelum menempuh kebijaksanaan pemadaman, pihak PLN mendahuluinya dengan kegiatan sosialisasi secara intensif kepada masyarakat.
Listrik, Nikmat Allah yang Jarang Disyukuri oleh Ir. Muhibbullah Azfa Manik, MTKegiatan sosialisasi difokuskan pada kondisi riil yang dialami PLN sekarang. PLN harus memberikan penjelasan kepada masyarakat bahwa kondisi mesin PLTA Singkarak betul-betul kritis. Mesin PLTA Singkarak krisis bukan karena kasus manupulasi anggaran pada pengadaan peralatan sehingga perlu dilakukan tindakan penyelamatan, dan salah satu tindakan penyelamatan tersebut adalah pemeliharaan mesin yang berdampak pada pemadaman listrik secara bergilir.
Listrik, Nikmat Allah yang Jarang Disyukuri oleh Ir. Muhibbullah Azfa Manik, MTDari kenyataan ini jelas bahwa kebijakan pemadaman bergilir merupakan pilihan penyelamatan yang sangat dilematis. Di satu pihak PLN tidak ingin menambah penderitaan masyarakat, namun di pihak lain, mesin pembangkit juga perlu diselamatkan agar kita tidak kehilangan listrik untuk selama-lamanya. Di satu sisi kita ingin listrik tetap nyala, tapi di sisi lain kita juga tidak ingin menambah beban masyarakat.
Listrik, Nikmat Allah yang Jarang Disyukuri oleh Ir. Muhibbullah Azfa Manik, MTMenyikapi penyelamatan dilematis ini, suka atau tidak, rencana tersebut rupa-rupanya masyarakat harus berjiwa besar menerimanya. Sepertinya pepatah yang mengatakan "tidak semua yang pahit itu racun", cocok untuk dijadikan pegangan dalam kondisi dilematis seperti sekarang ini.
Listrik, Nikmat Allah yang Jarang Disyukuri oleh Ir. Muhibbullah Azfa Manik, MTPublik berharap semoga pilihan pahit kali ini betul-betul bukan racun bagi kita. Semoga pahit yang kita rasakan kali ini merupakan jamu yang kelak dikemudian hari memberikan manfaat positif bagi kesehatan PLN. Dan semoga pemadaman yang dilakukan PLN bukan racun yang bermerek madu. Semoga pemadaman tidak dijadikan alasan untuk menaikkan tarif dasar listrik (TDL).
1 2 » selanjutnya Listrik, Nikmat Allah yang Jarang Disyukuri oleh Ir. Muhibbullah Azfa Manik, MT